Showing posts with label BAB - 15. Show all posts
Showing posts with label BAB - 15. Show all posts

15.1. IBRAHIM & ISTERI-ISTERI NABI

BAGIAN KEDUAPULUHENAM
IBRAHIM & ISTERI-ISTERI NABI
[Tulisan 1 Dari 3]


Highlight

  • Kembali ke Medinah 
  • Banat Su’ad 
  • Zainab wafat 
  • Ibrahim lahir  
  • Isteri-isteri Nabi Cemburu 
  • Hafsha dan Aisyahmemperlihatkan sikap  
  • Cerita Maghafir 
  • Mana di rumah Hafsha 
  • Selama sebulan Nabi meninggalkan isterinya  
  • Percakapan Umar dengan Nabi 
  • Surat At-Tahrim 
MUHAMMAD kembali ke Medinah selesai ia membebaskan Mekah dan setelah mendapat kemenangan di Hunain dan mengepung Ta’if. Dalam hati orang Arab semua sudah nyata dan yakin, bahwa tak ada yang akan dapat menandinginya di seluruh jazirah, juga sudah tak ada lagi lidah yang mau mengganggu atau mencelanya. Pihak Anshar dan Muhajirin semua merasa gembira sekali karena Tuhan telah membukakan jalan kepada Nabi, membebaskan negeri tempat Mesjid Suci. Mereka gembira karena penduduk Mekah telah beroleh hidayah dengan menganut Islam, dan orang-orang Arab - dengan kabilahnya yang beraneka ragam itu - telah tunduk dan taat kepada agama ini.
[
Untuk sekadar menikmati adanya ketenangan hidup, mereka semua kembali ke Medinah setelah Muhammad menunjuk ‘Attab b. Asid untuk Mekah di samping Mu’adh b. Jabal guna mengajar orang memperdalam agama dan mengajarkan Qur’an. Kemenangan yang belum ada taranya dalam sejarah Arab ini telah menimbulkan kesan yang dalam sekali di dalam hati orang-orang Arab itu semua, juga dalam hati pembesar-pembesar dan bangsawan-bangsawan yang samasekali tidak membayangkan, bahwa pada suatu hari mereka akan tunduk kepada Muhammad atau akan menerima agamanya sebagai agama mereka; dalam hati penyair-penyair, yang bicara atas nama bangsawan-bangsawan dengan sekedar mendapatkan simpati dan dukungan sebagai imbalan, atau sekadar mendapatkan bantuan dan dukungan kabilah-kabilah; dalam hati kabilah-kabilah di pedalaman, yang biasanya tidak mau menukarkan kebebasannya dengan apa pun, atau akan terbayang dalam pikirannya, bahwa mereka akan tergabung dalam satu panji di luar panji mereka sendiri yang khusus atau akan bersedia mati untuk semua itu dalam suatu peperangan sampai habis samasekali. Para penyair dengan sajak-sajaknya, kaum bangsawan dengan kebangsawanannya dan kabilah-kabilah yang mau mempertahankan kepribadiannya, apa artinya semua itu dalam berhadapan dengan kekuatan yang berada di luar kodrat alam itu, tiada dapat dibendung oleh suatu kekuatan, tiada suatu kekuasaan dapat mengalanginya.

Begitu besarnya pengaruh itu dalam hati orang-orang Arab, sehingga Bujair ibn Zuhair menulis surat kepada saudaranya Ka’b, setelah Nabi meninggalkan Ta’if. Ia mengatakan, bahwa Muhammad di Mekah telah menjatuhkan hukuman mati kepada orang-orang yang dulu pernah mengejek dan mengganggunya, dan penyair-penyair yang masih ada, mereka melarikan diri tak tentu arahnya. Dinasehatinya saudaranya itu, supaya segera datang kepada Nabi di Medinah. Ia tidak pernah menghukum orang yang datang kepadanya menyatakan penyesalannya; atau orang menyelamatkan diri dengan ke mana saja ia mau pergi.

Apa yang diceritakan Bujair itu memang benar. Tak ada orang yang terbunuh di Mekah atas perintah Muhammad kecuali empat orang saja, di antaranya seorang penyair yang sangat mengganggu Nabi dengan ejekan-ejekannya, dua orang yang telah menyakiti Zainab puterinya, ketika dengan ijin suaminya ia pergi hijrah dari Mekah hendak menyusul ayahnya. Ka’b yakin bahwa apa yang dikatakan saudaranya itu benar, dan kalau dia tidak mau menemui Muhammad ia akan hidup dalam petualangan. Oleh karena itu cepat-cepat ia datang ke Medinah dan menumpang di rumah seorang kawan lama. Keesokan harinya pagi-pagi ia datang ke mesjid, ia meminta suaka kepada Nabi kemudian ia membacakan sajak ini.1

Berpisah dengan Su’ad Hatiku kini merana karena cinta Tergila-gila mengikutinya, terpukau Tiada lagi ada belenggu.

Nabi kemudian memaafkannya dan setelah itu dia menjadi orang Islam yang baik.

Karena pengaruh itu jugalah, maka kabilah-kabilah mulai berdatangan kepada Nabi dan menyatakan kesetiaannya. Dari kabilah Tayy datang pula utusan dipimpin oleh ketuanya sendiri, Zaid al-Khail. Setelah mereka ini tiba, Nabi pun menyambut mereka dengan baik sekali. Ketika terjadi pembicaraan dengan Zaid, Nabi berkata:

“Setiap ada orang dari kalangan Arab yang digambarkan begitu baik, kemudian orang itu datang kepadaku, ternyata ia kurang daripada apa yang digambarkan orang, kecuali Zaid al-Khail ini. Ia melebihi daripada apa yang digambarkan orang.”

Lalu ia dinamainya ‘Zaid al-Khair,’ (Zaid yang baik) bukan lagi, Zaid al-Khail, (‘Zaid si kuda’).2. Kabilah Tayy kemudian masuk Islam termasuk Zaid sendiri sebagai pemimpinnya.

Kemudian ‘Adi b. Hatim at-Ta’iy. Ia seorang Nasrani, dan sangat benci kepada Muhammad. Setelah melihat keadaan Muhammad dan Muslimin di jazirah Arab, ia pergi dengan untanya, membawa keluarga dan anaknya hendak bergabung dengan orang-orang seagama dari kalangan Nasrani di Syam. Larinya ‘Adi ini ialah ketika Nabi mengutus Ali b. Abi Talib supaya menghancurkan berhala Tayy. Setelah berhala itu oleh Ali dihancurkan, ia membawa rampasan dan tawanan perang, di antaranya puteri Hatim -saudara ‘Adi - yang telah ditahan dalam sebuah tempat berpagar di pintu masuk mesjid, tempat tawanan-tawanan perang dikurung. Tatkala Nabi lewat di tempat itu, ia menghampirinya dan berkata:

“Rasulullah, ayah saya sudah meninggal, sedang penopang saya sudah menghilang. Bermurah hatilah kepadaku, mudah-mudahan Tuhan akan memberi kurnia kepadamu.”

Setelah diketahui bahwa penopangnya itu ‘Adi b. Hatim, yang telah melarikan diri dari Tuhan dan Rasul, Nabi memalingkan muka dari dia. Tetapi perempuan itu memintanya meninjau kembali. Lalu teringat oleh Nabi, betapa pemurahnya ayah mereka dulu pada zaman jahiliah sehingga dapat mengangkat nama jazirah itu. Kemudian diperintahkannya supaya wanita itu dibebaskan. Ia diberi pakaian yang bagus-bagus dan diberinya pula belanja, lalu diberangkatkan dengan rombongan pertama yang berangkat ke Syam. Bila kemudian ia bertemu dengan saudaranya (‘Adi) dan diceritakannya betapa Muhammad menghormatinya dan bermurah hati kepadanya, ia pun kembali dan menerjunkan diri ke dalam barisan Muslimin.

Demikian juga pemuka-pemuka kabilah yang lain berdatangan kepada Muhammad - setelah pembebasan Mekah dan kemenangan di Hunain serta pengepungan Ta’if - mereka hendak mengakui risalahnya dan menerima Islam, sementara ketika itu ia tinggal di Medinah, mereka lega dengan adanya pertolongan Tuhan dan kehidupan yang agak tenteram itu

Akan tetapi ketenteraman hidup masa itu tampaknya tidak begitu cerah. Pada waktu itu Zainab, puterinya sedang menderita sakit yang sangat menguatirkan sekali. Sejak ia mendapat gangguan Huwairith dan Habbar tatkala ia berangkat dari Mekah yang sangat mencemaskan hatinya dan menyebabkan ia keguguran, sejak itu kesehatannya mundur sekali, yang sampai berakhir membawa kematiannya. Dengan kematiannya itu tak ada lagi dari keturunan Muhammad yang masih hidup selain Fatimah, setelah Umm Kulthum dan Ruqayya wafat pula lebih dulu sebelum Zainab. Dengan kehilangan puterinya ini Muhammad merasa gundah sekali. Teringat olehnya, betapa lembutnya perasaan Zainab, betapa indahnya kesetiaannya kepada suaminya - Abu’l-‘Ash bin’r-Rabi’ ketika sebagai orang tawanan di Badr, ditebusnya ia dari ayahnya. Ia menebusnya, padahal ia dalam Islam sedang suaminya masih syirik, di samping begitu gigih ia memerangi ayahnya, yang kalau kemenangan itu berada di tangan Quraisy, pasti Muhammad tidak akan dibiarkan hidup.

Semua itu teringat oleh Muhammad betapa lembutnya perasaannya, betapa indahnya kesetiaannya. Teringat pula olehnya betapa ia menderita sakit, sejak ia kembali dari Mekah sampai ia wafat. Muhammad, yang dalam kemalangan, ia pergi ke pelosok-pelosok dan ke ujung kota, menengoki orang yang sedang sakit, ia menghibur orang yang dalam menderita, dalam kesakitan. Maka bilamana sampai pula takdir menimpa puterinya ini, setelah lebih dulu menimpa kedua saudaranya yang laki-laki tidak salah apabila ia akan sangat merasa duka, akan sangat bertambah luka di hati, meskipun dengan adanya rahmat dan kasih sayang Tuhan kepadanya ia akan merasa sudah terhibur.

Akan tetapi tidak lama ia mengalami kesedihan itu, dengan melalui Maria orang Kopti Tuhan telah memberi karunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim, nama yang diambil dari Ibrahim leluhur para nabi, para hunif yang patuh kepada Tuhan. Sejak Maria diberikan oleh Muqauqis kepada Nabi sampai pada waktu itu masih berstatus hamba sahaja. Oleh karena itu tempatnya tidak di samping mesjid seperti isteri-isteri Nabi Umm’l-Mukminin yang lain. Oleh Muhammad ia ditempatkan di ‘Alia, di bagian luar kota Medinah, di tempat yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahim, dalam sebuah rumah di tengah-tengah kebun anggur. Ia sering berkunjung ke sana seperti biasanya orang mengunjungi hak-miliknya. Ia mengambilnya sebagai hadiah dari Muqauqis bersama-sama saudaranya yang perempuan, Sirin, dan Sirin ini diberikannya kepada Hassan b. Thabit. Sesudah Khadijah wafat, dari semua isterinya, baik yang muda remaja atau yang sudah setengah umur, yang dulu pernah memberikan keturunan, Muhammad tidak pernah menantikan mereka masih akan memberikan keturunan lagi, yang selama sepuluh tahun berturut-turut belum ada tanda-tanda kesuburan pada mereka.

Setelah ternyata Maria mengandung dan kemudian lahir Ibrahim - ketika itu usianya sudah lampau enampuluh tahun - sangat gembira sekali ia. Rasa sukacita telah memenuhi hati manusia besar ini. Dengan kelahirannya itu kedudukan Maria dalam pandangannya tampak lebih tinggi, dari tingkat bekas-bekas budak ke derajat isteri. Ini menambah ia lebih disenangi dan lebih dekat lagi.

Wajar sekali hal ini akan menambah rasa iri hati di kalangan isteri-isterinya yang lain, lebih-lebih karena Maria ibu Ibrahim, sedang mereka semua tidak beroleh putera. Juga pandangan Nabi kepada bayi ini sehari ke sehari makin memperbesar kecemburuan mereka. Ia sangat menghormati Salma, isteri Abu Rafi’, yang bertindak sebagai bidan Maria. Ketika lahirnya itu ia memberikan sedekah uang dengan ukuran tiap seutas rambut kepada setiap fakir miskin, dan untuk menyusukannya telah diserahkan pula kepada Umm Saif disertai tujuh ekor kambing untuk dimanfaatkan air susunya buat si bayi. Setiap hari ia singgah ke rumah Maria sekadar ingin melihat Ibrahim, dan ia pun tambah gembira setiap melihat senyuman bayi yang masih suci dan bersih itu; makin senang hatinya setiap melihat pertumbuhan bayi bertambah indah. Apa lagikah yang akan lebih besar dari semua ini, akan menimbulkan rasa iri hati dalam diri isteri-isteri yang tidak mempunyai anak itu? Dan sampai di mana pula pengaruh iri hati itu pada mereka?

Dengan penuh perasaan gembira pada suatu hari Nabi datang dengan memondong Ibrahim kepada Aisyah. Dipanggilnya Aisyah supaya melihat betapa besarnya persamaan Ibrahim dengan dirinya itu. Aisyah melihat kepada bayi itu, kemudian katanya, bahwa dia tidak melihat adanya persamaan itu.
Setelah dilihatnya Nabi begitu gembira karena pertumbuhan bayi itu, ia tampak marah; semua bayi yang mendapat susu seperti Ibrahim, akan sama pertumbuhannya atau akan lebih baik. Isteri-isteri Nabi telah marah dan tidak suka hati karena kelahiran Ibrahim itu, yang akibatnya tidak terbatas hanya pada jawaban-jawaban yang kasar, bahkan sudah lebih dari itu, sampai-sampai dalam sejarah Muhammad dan dalam sejarah Islam telah meninggalkan pengaruh, sehingga karenanya datang pula wahyu dan disebutkan dalam Kitabullah

Dan wajar sekali pengaruh demikian ini akan timbul, Muhammad telah memberi tempat dan kedudukan kepada isteri-isterinya demikian rupa, suatu hal yang tidak pernah dikenal di kalangan Arab. Dalam suatu keterangan Umar bin’l-Khattab berkata, “Sungguh,” kata Umar, “kalau kami dalam zaman jahiliah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Baru setelah Tuhan memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka.”


Catatan kaki:

1 Ka’b ibn Zuhair seorang penyair kenamaan hidup dalam masa paganisma dan Islam. Ayahnya, Zuhair b. Abi Sulma, salah seorang penyair Mu’allaqat (lihat halaman 63 jilid satu). Sajak ini panjang, dan terkenal sekali, dimulai dengan melukiskan kekasihnya, Su’ad. Kemudian dilukiskannya betapa kagumnya ia kepada Rasul, yang baru dijumpainya itu, karena telah memaafkannya. Padahal sebelum itu, dengan sajak-sajaknya ia mengejek dan memaki-makinya. Di samping itu Rasul bahkan membuka mantelnya (burda) dan dibenkannya kepada Ka’b. Serangkum puisi yang indah ini sebenarnya hidup sampai sekarang dengan beberapa adaptasi, antara lain melalui Bushiri (lihat halaman xxiii) dan penyair Ahmad Syauqi (1868-1932), penyair Mesir kenamaan, dan yang juga dijadikan tema dalam beberapa komposisi musik Mesir kontemporer (A).
2 Diberi julukan demikian, konon karena dia terkenal sebagai penunggang kuda yang mahir. Dia juga penyair, orator, pemberani dan pemurah (A).



15.2. IBRAHIM & ISTERI-ISTERI NABI

BAGIAN KEDUAPULUHENAM
IBRAHIM & ISTERI-ISTERI NABI
[Tulisan 2 Dari 3]

Dan katanya lagi, “Ketika saya sedang dalam suatu urusan tiba-tiba isteri saya berkata: ‘Coba kau berbuat begini atau begitu. Jawab saya, ‘Ada urusan apa engkau di sini, dan perlu apa engkau dengan urusan yang kuinginkan.’ Dia pun membalas, ‘Aneh sekali engkau, Umar. Engkau tidak mau ditentang, padahal puterimu menentang Rasulullah s.a.w. sehingga ia gusar sepanjang hari. Kata Umar selanjutnya:

“Kuambil mantelku, lalu aku keluar, pergi menemui Hafsha. ‘Anakku,’ kataku kepadanya. ‘Engkau menentang Rasulullah s.a.w. sampai ia merasa gusar sepanjang hari?! Hafsha menjawabnya: ‘Memang kami menentangnya.’ ‘Engkau harus tahu,’ kataku. ‘Kuperingatkan engkau jangan teperdaya. Orang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dan mengira cinta Rasulullah s.a.w. hanya karenanya.’ Kemudian saya pergi menemui Umm Salama, karena kami masih berkerabat. Hal ini saya bicarakan dengan dia. Lalu kata Umm Salama kepadaku: ‘Aneh sekali engkau ini, Umar! Engkau sudah ikut campur dalam segala hal, sampai-sampai mau mencampuri urusan Rasulullah s.a.w. dengan rumahtangganya!’ Kata Umar lagi: ‘Kata-katanya mempengaruhi saya sehingga tidak jadi saya melakukan apa yang sudah saya rencanakan. Lalu saya pun pergi.”

Muslim dalam Shahih-nya melaporkan, bahwa Abu Bakr pernah meminta ijin kepada Nabi akan menemuinya dan setelah diijinkan iapun masuk, kemudian datang Umar meminta ijin dan masuk pula setelah diberi ijin. Dijumpainya Nabi sedang duduk dalam keadaan masygul di tengah-tengah para isterinya yang juga sedang masygul dan diam. Ketika itu Umar berkata: “Saya akan mengatakan sesuatu yang akan membuat Nabi s.a.w. tertawa. Lalu katanya: ‘Rasulullah, kalau tuan melihat Bint Kharija3 yang meminta belanja kepada saya maka saya bangun dan saya tinju lehernya. Maka Rasulullah pun tertawa seraya katanya: ‘Mereka itu sekarang di sekelilingku meminta belanja! Ketika itu Abu Bakr lalu menghampiri Aisyah dan ditinjunya lehernya, demikian juga Umar lalu menghampiri Hafsha dan meninjunya, sambil masing-masing berkata: ‘Kalian minta yang tidak ada pada Rasulullah s.a.w.! Mereka pun menjawab: ‘Demi Allah kami samasekali tidak minta kepada Rasullullah s.a.w. sesuatu yang tidak dipunyainya.”

Sebenarnya Abu Bakr dan Umar waktu itu menemui Nabi, karena Nabi a.s. tidak tampak keluar waktu sembahyang. Karena itu kaum Muslimin bertanya-tanya apa gerangan yang mengalanginya. Dalam peristiwa Abu Bakr dan Umar dengan Aisyah dan Hafsha inilah datang firman Tuhan:

“Wahai Nabi! Katakan kepada isteri-isterimu: ‘Kalau kamu menghendaki kehidupan dan perhiasan dunia, marilah kemari, akan kuberikan semua itu dan akan kuceraikan kamu dengan cara yang baik. Tetapi kalau kamu menghendaki Allah dan Rasul serta kehidupan akhirat, maka Allah telah menyediakan pahala yang besar untuk orang-orang yang berbuat kebaikan dari kalangan kamu.” (Qur’an, 33: 28-29)

Kemudian isteri-isteri Nabi saling mengadakan sepakat.
Biasanya lepas salat asar Nabi mengunjungi isteri-isterinya. Ketika itu ia sedang berkunjung kepada Hafsha menurut satu sumber - atau kepada Zainab bt. Jahsy menurut sumber yang lain - dan lama tidak keluar, lebih dari biasanya. Hal ini telah menimbulkan rasa iri hati pada isteri-isterinya yang lain. Aisyah mengatakan: ‘Lalu aku dan Hafsha bersepakat, bahwa bilamana Nabi s.a.w. datang kepada salah seorang dari kami hendaklah berkata bahwa aku mencium bau maghafir.4. Apa kau makan maghafir?” [Maghafir ialah sesuatu yang manis rasanya, berbau tidak sedap. Sedang Nabi tidak menyukai segala yang berbau tidak enak]. Ketika ia mendatangi salah seorang dari mereka ini, hal itu oleh yang seorang ditanyakan kepadanya.

“Saya hanya minum madu di rumah Zainab bt. Jahsy, dan tidak akan saya ulang lagi,” katanya.

Menurut laporan Sauda, yang juga sudah mengadakan persepakatan yang serupa dengan Aisyah, menceritakan, bahwa setelah Nabi berada di dekatnya, ditanyanya: “Kau makan maghafir?”

“Tidak,” jawabnya.
“Ini bau apa?”
“Hafsha menyugui aku minuman dari madu.”
“Yang lebahnya mengisap ‘urfut?”

Dan bila ia mendatangi Aisyah dikatakannya seperti yang dikatakan oleh Sauda. Juga Shafia ketika dijumpainya mengatakan seperti apa yang dikatakan mereka juga. Sejak itu ia lalu mengharamkan madu untuk dirinya.

Setelah melihat kenyataan ini Sauda berkata: “Maha suci Tuhan! Madu telah jadi haram buat kita!”

Ditatapnya ia oleh Aisyah dengan pandangan mata penuh arti seraya katanya: Diam!

Nabi yang telah memberi kedudukan kepada isteri-isterinya, sedang sebelum itu, seperti wanita-wanita Arab lainnya, mereka tidak pernah mendapat penghargaan orang, sudah wajar sekali apabila sikap mereka kini mau berlebih-lebihan dalam menggunakan kebebasan, suatu hal yang tidak pernah dialami oleh sesama kaum wanita, sampai-sampai ada di antara mereka itu yang menentang Nabi dan membuat Nabi gusar sepanjang hari. Ia sudah berusaha hendak menghindarkan diri dari mereka, meninggalkan mereka, supaya sikap kasih-sayang kepada mereka itu tidak sampai membuat tingkah laku mereka tambah melampaui batas, dan sampai ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada isteri-isteri Nabi itu sudah melampaui sopan santun, sehingga ketika terjadi percakapan antara dia dengan Aisyah, Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Nabi itu, dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih.

Pernah terjadi ketika pada suatu hari Hafsha pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala ia sedang di rumah Hafsha dan agak lama. Bila kemudian Hafsha kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan rasa cemburu yang sudah meluap. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi. Bilamana kemudian Maria keluar, Hafsha masuk menjumpai Nabi.

“Saya sudah melihat siapa yang dengan kau tadi,” kata Hafsha. “Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu.”

Muhammad segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telahmendorong Hafsha menyatakan apa yang telah disaksikannya ituserta membicarakannya kembali dengan Aisyah atauisteri-isterinya yang lain. Dengan maksud hendakmenyenangkan perasaan Hafsha, ia bermaksud hendak bersumpah mengharamkan Maria buat dirinya kalau Hafsha tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. Hafsha berjanji akan melaksanakan. Tetapi rasa cemburu sudah begitu berkecamuk dalam hati, sehingga dia tidak lagi sanggup menyimpan apa yang ada dalam hatinya, dan ia pun menceritakan lagi hal itu kepada Aisyah. Aisyah memberi kesan kepada Nabi bahwa Hafsha tidak lagi dapat menyimpan rahasia. Barangkali masalahnya tidak hanya terhenti pada Hafsha dan pada Aisyah saja dari kalangan isteri Nabi.Barangkali mereka semua - yang sudah melihat bagaimana Nabi mengangkat kedudukan Maria - telah pula mengikuti Hafsha dan Aisyah ketika kedua mereka ini berterang-terang kepada Nabi sehubungan dengan Maria ini, meskipun cerita demikian sebenarnya tidak lebih daripada suatu kejadian biasa antara seorang suami dengan isterinya, atau antara seorang laki-laki dengan hamba sahaya yang sudah dihalalkan. Dan tidak perlu diributkan seperti yang dilakukan oleh kedua puteri Abu Bakr dan Umar itu, yang dari pihak mereka sendiri berusaha hendak membalas karena kecenderungan Nabi kepada Maria. Kita sudah melihat adanya semacam ketegangan dalam saat-saat tertentu antara Nabi dengan para isterinya karena soal belanja, karena soal madu Zainab, atau karena sebab-sebab lain, yang menunjukkan bahwa mereka melihat Nabi lebih mencintai Aisyah atau lebih mencintai Maria

Begitu memuncaknya keadaan mereka, sehingga pada suatu hari mereka mengutus Zainab bt. Jahsy kepada Nabi di rumah Aisyah dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia berlaku tidak adil terhadap para isterinya, dan karena cintanya kepada Aisyah ia telah merugikan yang lain. Bukankah setiap isteri mendapat bagian masing-masing sehari semalam? Kemudian juga Sauda; karena melihat Nabi menjauhinya dan tidak bermuka manis kepadanya, maka supaya Rasul merasa senang, ia telah mengorbankan waktu siang dan malamnya itu untuk Aisyah. Dalam berterusterang itu Zainab tidak hanya terbatas dengan mengatakan Nabi bersikap tidak adil di antara para isteri, bahkan juga ia telah mencerca Aisyah yang ketika itu sedang duduk-duduk, sehingga membuat Aisyah bersiap hendak membalasnya kalau tidak karena adanya isyarat dari Nabi, yang membuat dia jadi tenang kembali. Akan tetapi Zainab begitu bersikeras menyerangnya dan mencerca Aisyah melampaui batas, sehingga tak ada jalan lain buat Nabi kecuali membiarkan Aisyah membela diri. Ketika itu Aisyah membalas bicara dan membuat Zainab jadi terdiam. Dengan demikian Nabi merasa senang dan kagum sekali terhadap puteri Abu Bakr itu.

Pada waktu-waktu tertentu pertentangan isteri-isteri Nabi itu sudah begitu memuncak, sebab dia dianggap lebih mencintai yang seorang daripada yang lain, sehingga karenanya Nabi bermaksud hendak menceraikan mereka itu sebagian, kalau tidak karena mereka lalu memberikan kebebasan kepadanya mengenai siapa saja yang lebih disukainya. Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada mereka makin menjadi-jadi, lebih-lebih pada Aisyah. Dalam menghadapi kegigihan sikap mereka yang iri hati ini Muhammad - yang sudah mengangkat derajat mereka begitu tinggi - masih tetap lemah-lembut. Muhammad tidak punya waktu yang senggang untuk melayani sikap kegigihan serupa itu dan membiarkan dirinya dipermainkan oleh sang isteri. Mereka harus mendapat pelajaran dengan sikap yang tegas dan keras. Persoalan pada isteri-isteri itu harus dapat dikembalikan ke tempat semula. Dia harus kembali dalam ketenangannya berpikir, dalam menjalankan dakwah ajarannya, seperti yang sudah ditentukan Tuhan kepadanya itu. Dapat juga pelajaran itu berupa tindakan meninggalkan mereka atau mengancam mereka dengan perceraian. Kalau mereka mau kembali sadar, baiklah; kalau tidak, berikanlah bagiannya dan ceraikan mereka dengan cara yang baik.

Selama sebulan penuh akhirnya Nabi memisahkan diri dari mereka. Tiada orang yang diajaknya bicara mengenai mereka, juga orang pun tak ada yang berani memulai membicarakan masalah mereka itu. Dan selama sebulan itu ia memusatkan pikirannya pada apa yang harus dilakukannya, apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslimin dalam menjalankan dakwah Islam, serta menyebarkan agama itu keluar jazirah.

Dalam pada itu Abu Bakr dan Umar serta bapa-bapa mertua Nabi yang lain merasa gelisah sekali melihat nasib Umm’l-Mukminin (Ibu-ibu Orang-orang Beriman) serta apa yang akan terjadi karena kemarahan Rasulullah, dan karena kemarahan Rasul itu akan berakibat pula adanya kemurkaan Tuhan dan para malaikat. Bahkan sudah ada orang berkata, bahwa Nabi telah menceraikan Hafsha puteri Umar setelah ia membocorkan apa yang dijanjikannya akan dirahasiakan. Desas-desus pun beredar di kalangan Muslimin bahwa Nabi sudah menceraikan isteri-isterinya. Dalam pada itu isteri-isteri pun gelisah pula, menyesal, yang karena terdorong oleh rasa cemburu, sampai begitu jauh mereka menyakiti hati suami yang tadinya sangat lemah-lembut kepada mereka. Bagi mereka dia adalah saudara, bapa, anak dan segala yang ada dalam hidup dan di balik hidup ini.

Sekarang Muhammad sudah menghabiskan sebagian waktunya dalam sebuah bilik kecil. Dan selama ia dalam bilik itu pelayannya Rabah duduk menunggu di ambang pintu. Jalan masuk ke tempat itu melalui tangga dari batang kurma yang kasar sekali.

Sudah sebulan lamanya ia dalam bilik itu sesuai dengan niatnya hendak meninggalkan para isterinya itu samasekali. Ketika itu kaum Muslimin sedang berada dalam mesjid dalam keadaan menekur. Mereka berkata: Rasulullah s.a.w. telah menceraikan isteri-isterinya. Jelas sekali kesedihan yang mendalam itu membayang pada wajah mereka. Ketika itu Umar yang berada di tengah-tengah mereka lalu berdiri. Ia hendak pergi ke tempat Nabi dalam biliknya itu. Dipanggilnya Rabah si pelayan supaya dimintakan ijin ia hendak menemui Rasulullah. Ia melihat kepada Rabah dengan mengharapkan jawaban. Tapi rupanya Rabah tidak berkata apa-apa, yang berarti bahwa Nabi belum mengijinkan. Sekali lagi Umar mengulangi permintaan itu. Juga sekali lagi Rabah tidak memberikan jawaban. Sekali ini Umar berkata lagi dengan suara lebih keras.


Catatan kaki:

3 Demikian menurut Muslim, tapi berlainan dengan Tabari, yang memaparkan isteri-isteri Umar yang bernama Bint Kharija, dan dalam (Ruh’l-Ma’ani: ‘kalau tuan melihat Bint Zaid É’ dst.
4 Maghafir jamak mighfar, ialah getah yang dihasilkan dari pohon ‘urfut, rasanya manis dan baunya tidak sedap. ‘Urfut sebangsa pohon paku yang mengeluarkan getah berbau tidak sedap, yang bila diisap oleh lebah menghasilkan madu yang sama baunya. (LA) TerJemahannya yang persis dalam kata Indonesia belum tersua. Mungkin pohon ini termasuk jenis paku atau akasia (A).



15.3. IBRAHIM & ISTERI-ISTERI NABI

BAGIAN KEDUAPULUHENAM
IBRAHIM & ISTERI-ISTERI NABI
[Tulisan 3 Dari 3]


“Rabah, mintakan aku ijin kepada Rasulullah s.a.w. Kukira dia sudah menduga kedatanganku ini ada hubungannnya dengan Hafsha. Sungguh, kalau dia menyuruh aku memenggal leher Hafsha, akan kupenggal.”

Sekali ini Nabi memberi ijin dan Umar pun masuk. Bila ia sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia menangis.

“Apa yang membuat engkau menangis, Ibn’l-Khattab?” tanya Muhammad.

Yang membuatnya menangis ialah melihat tikar tempat Nabi berbaring itu sampai membekas di rusuknya, dan bilik sempit yang tiada berisi apa-apa selain segenggam gandum, kacang-kacangan 5. dan kulit yang digantungkan.

Setelah oleh Umar disebutkan apa yang telah menyebabkannya menangis itu dan Nabi mengatakan perlunya meninggalkan kehidupan duniawi, ia pun mulai kembali tenang.

Kemudian kata Umar:

“Rasulullah, apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para isteri itu. Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Tuhan di sampingmu, demikian juga para malaikat - Jibril dan Mikail - juga saya, Abu Bakr, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu.”

Kemudian ia terus bicara dengan Nabi sehingga bayangan kemarahannya berangsur hilang dari wajahnya dan ia pun tertawa. Setelah Umar melihat hal ini lalu diceritakannya keadaan Muslimin yang di mesjid serta apa yang mereka katakan, bahwa Nabi telah menceraikan isteri-isterinya. Dengan adanya keterangan dari Nabi bahwa ia tidak menceraikan mereka, ia minta ijin akan mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang sekarang masih tinggal di mesjid menunggu.

Ia pergi ke mesjid, dan dengan suara keras ia berkata kepada mereka: “Rasulullah - s.a.w. - tidak menceraikan isterinya.”
Sehubungan dengan peristiwa inilah ayat-ayat suci ini turun:

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang oleh Tuhan dihalalkan untukmu; hanya karena engkau ingin memenuhi segala yang disenangi para isterimu? Dan Allah jua Maha Pengampun dan Penyayang. Tuhan telah mewajibkan kamu melepaskan sumpah kamu itu. Dan Tuhan jua Pelindungmu, Dia mengetahui dan Bijaksana.”

Tatkala Nabi membisikkan cerita itu kepada salah seorang isterinya, maka bila ia (isteri) itu mengumumkan hal tersebut dan Tuhan mengungkapkan hal itu kepadanya, sebagian diterangkannya dan yang sebagian lagi tidak. Bila hal itu kemudian disampaikan kepada isterinya, ia bertanya: “Siapa yang mengatakan itu kepadamu?” Ia menjawab:

“Yang mengatakan itu kepadaku Allah Yang Maha mengetahui. Kalau kamu berdua mau bertaubat kepada Allah maka hatimu sudah sudi menerima. Tetapi kalau kamu berdua bantu-membantu menyusahkannya, maka Tuhanlah Pelindungnya; demikian juga Jibril dan setiap orang baik-baik di kalangan orang-orang beriman; di samping itu para malaikat juga jadi penolongnya. Jika ia menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu - yang berserah diri, yang beriman, berbakti dan bertaubat, yang rendah hati beribadat dan berpuasa, janda-janda atau perawan.” (Qur’an, 66: 1-5)

Dengan demikian peristiwa itu selesai. Isteri-isteri Nabi kembali sadar, dan dia pun kembali kepada mereka setelah mereka benar-benar bertaubat, menjadi manusia yang rendah hati beribadat dan beriman. Kehidupan rumahtangganya sekarang kembali tenang, yang memang demikian diperlukan oleh setiap manusia yang sedang melaksanakan suatu beban besar yang ditugaskan kepadanya.

Apa yang sudah saya ceritakan tentang Muhammad yang sudah meninggalkan isteri-isterinya dan menyuruh mereka supaya memilih, peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah ditinggalkan serta beberapa kejadian yang sebelum itu dan akibatnya, menurut hemat saya itulah cerita yang sebenarnya mengenai sejarah kejadian ini. Cerita ini saling menguatkan satu sama lain, seperti yang ada dalam kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadis. Demikian juga adanya keterangan-keterangan di sana-sini mengenai diri Muhammad dan isteri-isterinya dalam pelbagai buku biografi itu. Sungguhpun begitu tiada sebuah juga buku-buku sejarah itu yang membawa peristiwa ini atau mengemukakan peristiwa-peristiwa sebelumnya serta kesimpulan-kesimpulan yang diambilnya seperti yang saya kemukakan dalam buku ini. Dalam menghadapi kejadian seperti ini oleh buku-buku sejarah Nabi itu kebanyakan dilewati begitu saja tanpa ditelaah lebih lanjut; seolah-olah ini dilihatnya sebagai barang yang kesat dipegang dan takut sekali mendekatinya. Ada lagi yang menelaah soal madu dan maghafir, tanpa sepatah kata juga menyebut-nyebut soal Hafsha dan Maria.

Sebaliknya oleh pihak Orientalis - soal Hafsha dan Maria, soal Hafsha yang membuka rahasia kepada Aisyah - hal yang dijanjikan kepada Nabi akan dirahasiakan - dijadikannya pangkal sebab semua kejadian itu. Dengan demikian mereka berusaha hendak menambah hal-hal baru untuk meyakinkan pembacanya tentang diri Nabi, bahwa dia laki-laki yang senang kepada wanita dengan cara yang tidak bersih. Menurut hemat saya, penulis-penulis sejarah dari kalangan Muslimin sendiri tidak punya alasan akan mengabaikan kejadian-kejadian ini dengan segala artinya yang sangat dalam itu seperti sudah sebagian kita kemukakan soalnya. Sedang pihak Orientalis, yang dalam hal ini sudah terpengaruh oleh nafsu ke-kristenannya, mereka sudah menyalahi cara-cara penelitian sejarah. Terhadap siapa pun lepas dari orang besar seperti Muhammad - kritik sejarah yang murni tidak dapat menerima bahwa pengungkapan Hafsha kepada Aisyah karena ia telah menemui suaminya dalam rumahnya dengan hamba sahayanya yang sudah menjadi haknya itu dan dengan demikian ia halal baginya - akan dijadikan suatu sebab kenapa Muhammad sampai meninggalkan semua isteri selama sebulan penuh, serta mengancam mereka semua akan diceraikan. Juga kritik sejarah yang murni tidak dapat menerima bahwa cerita madu itu telah juga dijadikan sebab adanya perpisahan dan ancaman itu.

Apabila orang itu orang besar seperti Muhammad, lemah-lembut seperti Muhammad, berlapang dada, tahan menderita, orang berwatak dengan segala sifat-sifat yang ada pada Muhammad, yang sudah sepakat diakui pula oleh semua penulis sejarah hidupnya, maka menggambarkan salah satu dari kedua peristiwa itu an sich sebagai sebab ia memisahkan diri dan mengancam hendak menceraikan isteri, adalah suatu hal yang kebalikannya, jauh daripada suatu cara kritik sejarah. Sebaliknya, kritik yang akan dapat diterima orang dan sejalan pula dengan logika sejarah ialah apabila peristiwa-peristiwa itu mengikuti jejak yang sebenarnya, yang akan membawa kepada kesimpulankesimpulan yang sudah pasti tidak bisa lain akan ke sana. Maka dengan demikian ia akan menjadi masalah biasa, masuk akal dan secara ilmiah dapat diterima. Dan apa yang sudah kita lakukan ini menurut hemat saya adalah langkah yang wajar dalam peristiwa itu, yakni yang sesuai dengan kebijaksanaan Muhammad, dengan segala kebesarannya, keteguhan hati serta pandangannya yang jauh.

Ada beberapa Orientalis yang juga bicara tentang ayat-ayat yang turun pada permulaan Surah At-Tahrim (66) seperti yang sudah saya kutip itu. Disebutkannya bahwa semua kitab-kitab suci di Timur tidak ada yang menyebut-nyebut peristiwa rumahtangga dengan cara semacam itu.

Rasanya tidak perlu kita mengatakan lagi apa yang tersebut dalam kitab-kitab suci itu semua - termasuk Qur’an di antaranya tentang masyarakat Lut dengan segala cacat mereka, di samping bagaimana mereka mendebat dua malaikat tamu Lut itu serta tentang apa yang disebutkan dalam kitab-kitab suci itu tentang isteri Lut, dan bahwa dia termasuk orang yang tertinggal di belakang. Bahkan Taurat (Perjanjian Lama) membawa cerita tentang Lut dan dua anaknya yang perempuan ketika mereka memberikan minuman anggur kepada bapanya sehingga dua malam berturut-turut ia mabuk, dengan maksud supaya dapat berseketiduran dengan anak itu masing-masing dan dengan demikian supaya beroleh keturunan, karena dikuatirkan keluarga Lut kelak akan punah, setelah Tuhan menurunkan bencana kepada mereka itu. Sebabnya maka semua kitab suci membuat kisah-kisah para rasul serta apa yang mereka lakukan dan segala apa yang terjadi, ialah sebagai suri teladan bagi umat manusia.

Banyak sekali kisah-kisah demikian dalam Qur’an. Tuhan menyampaikan kisah-kisah yang baik sekali kepada Rasul. Sedang Qur’an bukan hanya diturunkan kepada Muhammad, melainkan kepada seluruh umat manusia. Muhammad adalah seorang nabi dan seorang rasul, sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul lain yang dibawakan kisahnya dalam Qur’an. Kalau Qur’an menyampaikan berita-berita tentang Muhammad dan menyangkut pula kehidupan pribadinya yang perlu menjadi contoh buat kaum Muslimin dan teladan yang baik pula, serta memberi isyarat tentang arti dalam tindakan dan kebijaksanaannya itu, maka kisah-kisah para nabi yang terdapat dalam Qur’an itu samasekali tidak berarti keluar daripada apa yang terdapat dalam kitab-kitab suci lain. Apabila kita mengatakan, bahwa masalah Muhammad meninggalkan isterinya itu bukan sebab yang berdiri sendiri di samping sebab-sebab lain yang telah menimbulkan cerita itu, juga bukan karena Hafsha bercerita kepada Aisyah apa yang dilakukan Muhammad dengan Maria - suatu hal yang memang patut dilakukan oleh setiap laki-laki terhadap isterinya atau siapa saja yang menjadi miliknya yang sah - orang akan melihat, bahwa tinjauan yang dikemukakan oleh beberapa Orientalis itu, dari segi kritik sejarah samasekali tidak dapat dibenarkan, juga tidak pula sejalan dengan apa yang ada dalam kitab-kitab suci sehubungan dengan kisah-kisah dan kehidupan para nabi itu.

Catatan kaki:

5 qaraz kacang-kacangan dari sejenis pohon paku (acacia nilotica?) (A).



15.4. TABUK DAN KEMATIAN IBRAHIM

BAGIAN KEDUAPULUHTUJUH
TABUK DAN KEMATIAN IBRAHIM 
[Tulisan 1 Dari 3]


Highlight

  • Ketentuan Zakat dan Kharaj 
  • Berita Rumawi bersiap siap 
  • Seruan Muhammad menghadapi Rumawi 
  • Muslimin menyambut seruan Rasul 
  • Mereka yang tinggal di belakang dan orang-orang Munafik  
  • Muhammad bersikap tegas 
  • Tentara Rumawi
  • Jalan ke Syam yang panas membakar 
  • Rumawi menarik diri ketakutan
  • Perjanjian dengan Yohanna dan para amir perbatasan 
  • Kembali ke Medinah 
  • Ibrahim sakit 
  • Muhammad meratapi kematian Ibrahim 
PERISTIWA rumah-tangga serta ketegangan dan kegelisahan yang timbul antara Nabi dengan isteri-isterinya tidak sampai mengubah segala sesuatu mengenai masalah-masalah umum. Setelah Mekah dibebaskan dan penduduk kota itu menerima Islam, sekarang masalah-masalah umum itu sudah terasa makin penting sekali. Seluruh masyarakat Arab sudah mulai merasakan betapa pentingnya hal itu. Rumah Suci itu sudah merupakan tempat suci buat orang Arab, tempat mereka berziarah sejak berabad-abad lamanya. Rumah Suci ini dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan itu - penjagaan, penyediaan makanan dan air serta hal-hal yang berhubungan dengan masalah haji dari pelbagai macam upacara - sekarang berada di tangan Muhammad dan di bawah undang-undang agama baru ini. Sudah tentu sekali dengan dibebaskannya Mekah masalah-masalah umum di kalangan Muslimin akan jadi bertambah, dan kaum Muslimin pun akan bertambah pula merasakan akan adanya pengaruh mereka di segala pelosok jazirah. Dengan bertambahnya masalah-masalah umum ini dengan sendirinya akan bertambah pula pengeluaran-pengeluaran masyarakat umum itu.

Oleh karena itu kaum Muslimin harus mengeluarkan zakat ‘usyr 1. dan orang-orang Arab yang masih bertahan dengan jahiliahnya diharuskan pula membayar kharaj (pajak tanah). Hal ini menimbulkan kegelisahan di kalangan mereka; kadang mereka menggerutu, bahkan lebih dari hanya sekadar menggerutu. Akan tetapi, peraturan baru yang berhubungan dengan agama baru ini, soal pemungutan ‘usyr dan kharaj di seluruh jazirah belum merupakan suatu jalan ke luar. Untuk maksud itu Muhammad kemudian mengutus sahabat-sahabatnya - tak lama setelah ia kembali dari Mekah - untuk memungut ‘usyr dari penghasilan para kabilah yang sudah beragama Islam tanpa mengusik-usik modal pokok. Mereka semua itu berangkat menuju tujuannya masing-masing, dan para kabilah itu pun menyambut mereka dengan ramah sekali dan zakat ‘usyr itu pun dibayarnya dengan segala senang hati. Tak ada pihak yang mau mengelak dari itu selain daripada anak-suku dari Banu Tamim dan Banu’l-Mushtaliq. Sementara zakat ‘usyr itu dikenakan kepada kabilah-kabilah dekat kabilah Banu Tamim yang mereka laksanakan berupa ternak dan harta, tiba-tiba Banu’l-‘Anbar [anak suku Banu Tamim], sebelum mereka itu dimintai zakat, mereka sudah siap membawa tombak dan pedang mengusir petugas itu dari daerahnya.

Setelah berita ini disampaikan kepada Muhammad, ia segera menugaskan ‘Uyaina b. Hishn memimpin lima puluh orang anggota pasukan berkuda. Mereka diserbu dengan tiada setahu mereka dan mereka pun lari tunggang-langgang. Lebih dari limapuluh orang terdiri dari laki-laki, wanita dan anak-anak menjadi tawanan, dan mereka ini dibawa pulang ke Medinah. Tawanan itu oleh Nabi dipenjarakan. Di kalangan Banu Tamim ini sudah ada sejumlah kaum Muslimin yang pernah ikut berperang di samping Nabi dalam membebaskan Mekah dan di Hunain. Yang sebagian lagi masih tetap dalam jahiliah.

Setelah mengetahui apa yang terjadi terhadap kawan-kawan mereka dari Banu’l-‘Anbar itu, mereka mengirimkan utusan ke Medinah, terdiri dari pemuka-pemuka mereka sendiri. Bila mereka sudah sampai di mesjid, mereka memanggil-manggil Nabi dari luar kamar: Muhammad, keluarlah ke mari. Panggilan mereka ini sangat mengganggu Nabi. Sebenarnya ia tidak akan keluar menemui mereka, kalau tidak karena terdengar suara azan sembahyang lohor. Begitu mereka melihat Nabi, segera mereka melaporkan apa yang telah dilakukan ‘Uyaina terhadap golongan mereka itu. Juga mereka melaporkan tentang beberapa orang yang sudah masuk Islam dan pernah berjuang di sampingnya, selanjutnya dikatakan betapa kedudukan mereka itu di tengah-tengah masyarakat Arab.

“Kami kemari hendak berlumba,” kata mereka lagi. “Berilah ijin kepada penyair dan orator kami.”

Kemudian juru pidato mereka, ‘Utarid b. Hajib berpidato. Setelah selesai, Rasulullah memanggil Thabit b. Qais untuk membalasnya. Seterusnya penyair mereka, Az-Zabriqan b. Badr membacakan sajak-sajak yang kemudian dibalas oleh Hassan b. Thabit. Setelah selesai perlombaan itu, ‘Afra’ b. Habis berkata: Orang ini memang tepat sekali. Oratornya lebih ulung dari orator kita, penyairnya juga lebih pandai dari penyair kita dan suara mereka lebih nyaring dari suara kita. Dan rombongan itu pun menerima Islam. Tawanan-tawanan itu oleh Nabi dibebaskan dan dikembalikan kepada mereka.

Ada pun Banu Mushtaliq, begitu mereka melihat pemungut zakat dan pajak, mereka lari ketakutan. Kemudian mereka mengutus orang kepada Nabi melaporkan, bahwa adanya kekuatiran yang tidak pada tempatnya itu telah menimbulkan adanya salah paham.

Pengaruh Muhammad kini sudah mulai terasa sampai ke pelosok-pelosok jazirah. Setiap ada golongan atau kabilah yang mencoba-coba hendak melawan pengaruh itu, Nabi sudah siap pula mengirimkan kekuatan ke sana dan mengharuskan mereka tunduk membayar kharaj dengan tetap dalam kepercayaan mereka, atau sebagai orang Islam dengan membayar zakat.

Sementara perhatiannya sedang diarahkan ke seluruh jazirah Arab supaya jangan lagi ada pihak yang akan dapat menggoyahkan, dan keamanan di seluruh wilayah itu benar-benar aman sampai ke pelosok-pelosok, tiba-tiba ada berita sampai kepadanya dari pihak Rumawi, bahwa negara itu sedang menyiapkan sebuah pasukan tentara yang hendak menyerang perbatasan tanah Arab sebelah utara, dengan suatu serangan yang akan membuat orang lupa akan penarikan mundur yang secara cerdik dilakukan pihak Arab di Mu’ta dulu itu. Juga akan membuat orang lupa akan pengaruh Muslimin yang deras maju ke segenap penjuru yang hendak membendung kekuasaan Rumawi di Syam dan kekuasaan Persia di Hira. Berita itu tiba sudah begitu konkrit. Ia tidak lagi ragu-ragu dalam mengambil kesempatan ini. Ia hendak menghadapi sendiri kekuatan itu dan akan menghancurkannya sekali dengan mengikis habis setiap harapan dalam hati pemimpin-pemimpin mereka yang bermaksud hendak menyerang dan mengganggu kawasan itu.

Ketika itu musim panas belum berakhir. Suhu panas musim pada awal musim rontok yang sampai pada titik yang sangat tinggi itu merupakan musim maut yang sangat mencekam di wilayah padang pasir. Di samping itu memang perjalanan dari Medinah ke Syam, selain perjalanan yang panjang juga sangat sukar sekali ditempuh. Perlu ada keuletan, persediaan bahan makanan dan air. Jadi, tidak ada jalan lain Muhammad harus memberitahukan niatnya hendak berangkat menghadapi Rumawi itu kepada umum; supaya mereka juga bersiap-siap. Tidak ada jalan lain juga harus menyimpang pula dari kebiasaannya dalam ekspedisi-ekspedisinya yang sudah-sudah, yang dalam memimpin pasukannya sering ia menuju ke jurusan lain daripada yang sebenarnya dituju, untuk menyesatkan pihak musuh supaya berita perjalanannya itu tidak diketahui.

Kemudian Muhammad menyerukan kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin. Orang-orang kaya dari kalangan Muslimin juga dimintanya supaya ikut serta dalam menyiapkan pasukan itu dengan harta yang ada pada mereka serta mengerahkan orang supaya sama-sama menggabungkan diri ke dalam pasukan itu. Dengan demikian, itu akan berarti sekali sehingga dapat membawa rasa cemas kedalam jiwa pihak Rumawi, yang sudah terkenal oleh banyaknya jumlah orang dan besarnya perlengkapan.

Bagaimana gerangan kaum Muslimin menyambut seruan ini, yang berarti harus meninggalkan isteri, anak dan harta-benda, dalam panas musim yang begitu dahsyat, dalam mengarungi lautan tandus padang sahara, kering, air pun tak seberapa, kemudian harus pula menghadapi musuh yang sudah mengalahkan Persia, dan belum dapat dikalahkan oleh kaum Muslimin? Akan tetapi iman mereka, kecintaan mereka kepada Rasul, serta kemesraan kepada agama, mereka pun terjun menyambut seruan itu, berangkat dalam satu arak-arakan yang rasanya dapat menyempitkan ruang padang sahara itu, sambil mengerahkan semua harta dan ternak mereka, siap dengan senjata ditangan, dengan debu yang sudah mengepul, yang begitu sampai beritanya kepada musuh, mereka akan lari tunggang-langgang. Ataukah barangkali perjalanan yang begitu sulit itu, di bawah lecutan udara panas, dibawah ancaman lapar dan haus, mereka akan jadi enggan dan kembali surut?

Dua perasaan itu di kalangan Muslimin ada pada waktu itu. Ada yang menyambut agama ini dengan hati yang bersemarak cahaya dan bimbingan Tuhan, hati yang sudah berkilauan cahaya iman, dan ia sudah tidak mengenal yang lain. Ada yang masuk agama dengan suatu harapan, dan dengan rasa gentar. Mereka mengharapkan harta rampasan perang, karena kabilah-kabilah itu sudah tak berdaya menahan serbuan Muslimin, lalu mereka menyerah dan bersedia membayar jizya2 dengan taat dan patuh. Yang merasa gentar karena kekuatan ini dapat menghantam kekuatan lain yang merintanginya, dan ditakuti kekuasaannya oleh setiap raja. Golongan pertama, dengan segera mereka itu berbondong-bondong menyambut seruan Rasulullah. Ada orang miskin dari mereka itu, tidak ada binatang beban yang akan ditungganginya, ada pula orang yang kaya raya, menyerahkan semua harta kepadanya untuk diserahkan kepada perjuangan di jalan Allah, dengan hati ikhlas, dengan harapan akan gugur pula sebagai syahid di sisi Tuhan. Sedang yang lain masih berat-berat langkah dan mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil berbisik-bisik sesama mereka dan mencemooh ajakan Muhammad kepada mereka untuk menghadapi suatu peperangan yang jauh, dalam udara yang begitu panas membakar.

Itulah mereka orang-orang munafik, yang karenanya Surah At-Taubah turun, yang berisi ajakan perjuangan yang paling besar dan tegas-tegas menyampaikan ancaman Tuhan kepada mereka yang membelakangi ajakan Rasulullah.

Ada sekelompok orang-orang munafik yang berkata satu sama lain: Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas. Maka firman Tuhan ini turun:

“.... dan mereka berkata: “Jangan kamu berangkat perang dalam udara panas begini.’ Tapi katakanlah: ‘Api neraka lebih panas lagi, kalau kamu mengerti! Biarlah mereka tertawa sedikit dan menangis lebih banyak sebagai balasan atas hasil perbuatan mereka.” (Qur’an, 9: 81-82)

Kata Muhamnmad kepada Jadd b. Qais - salah seorang Banu Salima:

“Hai Jadd, engkau bersedia tahun ini menghadapi Banu’l Ashfar?”

“Rasulullah,” kata Jadd. “Ijinkanlah saya untuk tidak dibawa ke dalam ujian serupa ini. Masyarakat saya sudah cukup mengenal, bahwa tak ada orang yang lebih berahi terhadap wanita seperti saya ini. Kuatir saya, bahwa kalau saya melihat wanita-wanita Banu’l-Ashfar, saya takkan dapat menahan diri.” [Banu’lAshfar ialah bangsa Rumawi].

Oleh Rasulullah ia ditinggalkan. Dalam hubungan ini ayat berikut ini turun:

“Ada pula di antara mereka yang berkata: ‘Ijinkanlah saya (tidak ikut serta) dan jangan kaubawa saya ke dalam ujian ini.’ Ya, ketahuilah, mereka kini sudah terjatuh ke dalam ujian itu, dan bahwa neraka itu melingkungi orang-orang kafir.” (Qur’an, 9:49)

Orang-orang yang memang sudah membawa bibit-bibit kebencian dalam hatinya kepada Muhammad, mereka mengambil kesempatan dalam peristiwa ini supaya orang-orang munafik itu tambah munafik dan menghasut orang supaya tinggal di belakang medan perang. Muhammad melihat bahwa mereka itu tak dapat diberi hati, kuatir nanti akan merajalela. Ia berpendapat akan mengambil tindakan terhadap mereka dengan tangan besi. Ia mengetahui, bahwa banyak orang berkumpul di rumah Sulaim orang Yahudi itu. Mereka mau mengalang-alangi orang, mau menanamkan rasa enggan dalam hati orang dan supaya mereka tinggal saja di garis belakang. Didampingi oleh beberapa orang sahabat ia mengutus Talha b. ‘Ubaidillah kepada mereka dan rumah Sulaim itu dibakar. Salah seorang dari mereka patah kakinya ketika ia melarikan diri dari dalam rumah itu. Yang lain-lain langsung menerobos api itu dan dapat meloloskan diri.

Tetapi mereka sudah tidak lagi mengulangi perbuatan semacam itu. Bahkan itu menjadi contoh buat yang lain. Sesudah itu tak ada lagi orang berani melakukan perbuatan demikian.

Tindakan tegas terhadap orang-orang munafik itu ada juga bekasnya. Dalam mempersiapkan pasukan itu orang-orang kaya dan orang-orang berada telah pula datang menyumbangkan hartanya dalam jumlah yang cukup besar. Usman b. ‘Affan saja sendiri menyumbang seribu dinar, dan banyak lagi yang lain, masing-masing menurut kemampuannya. Setiap orang yang mampu tampil dengan perlengkapan dan biaya sendiri pula. Orang-orang yang tidak punya juga banyak yang datang ingin dibawa serta oleh Nabi. Mereka yang mampu oleh Nabi dibawa, sedang kepada yang lain ia berkata: “Dalam hal ini saya tidak mendapat kendaraan yang akan dapat membawa kamu.”


Catatan kaki:

1 Zakat ‘usyr ialah zakat hasil bumi yang dikenakan 1/10 dari produksi hasil pertanian bila diolah dengan bantuan air hujan atau mata air alam dan 1/20 bila diairi dengan menggunakan tenaga. Ada yang berpendapat, bahwa secara teknis ini bukan zakat, karena yang dikenakan hanya hasilnya (A).
2 Pajak kepala sebagai kompensasi atas setiap non-Muslim di bawah pemerintahan Islam dengan mendapat jarninan keamanan dan dibebaskannya ia dari wajib militer (A)



15.5. TABUK DAN KEMATIAN IBRAHIM

BAGIAN KEDUAPULUHTUJUH
TABUK DAN KEMATIAN IBRAHIM 
[Tulisan 2 Dari 3]

Dengan demikian mereka pun kembali, kembali dengan bercucuran airmata. Mereka sedih, karena tak ada pula yang dapat mereka sumbangkan. Karena tangisan mereka itu mereka diberi nama Al-Bakka’un (orang-orang yang menangis). Pasukan yang sudah berkumpul mendampingi Muhammad ini - yang disebut Pasukan ‘Usra karena kesukaran yang dialami sejak mulai dibangun - sebanyak tigapuluh ribu Muslimin. Dalam menunggu Muhammad kembali dari mengurus beberapa masalah di Medinah, sementara dia tidak ada, di tengah-tengah pasukan yang sudah berkumpul itu Abu Bakrlah yang bertindak sebagai imam sembahyang.

Sekarang, setelah masalah-masalah dalam kota diserahkan kepada Muhammad b. Maslama; dan Ali b. Abi Talib diserahi urusan keluarga dan disuruhnya ia tinggal dengan mereka. Setelah segala sesuatunya sudah dianggap beres, ia pun kembali ke tempat semula memimpin pasukan. Ketika itu Abdullah b. Ubayy juga sudah siap dengan sebuah pasukan terdiri dari golongannya sendiri, akan berangkat disamping pasukan Muhammad. Akan tetapi menurut Nabi, Abdullah dan pasukannya itu supaya tetap di Medinah saja karena selain kurang dapat dipercaya imannya juga ia tidak kuat.

Setelah mendapat perintah, pasukan itu pun berangkat, debu dan pasir halus mengepul-ngepul ke udara diselingi oleh ringkik kuda. Wanita-wanita Medinah pergi naik ke atas loteng hendak menyaksikan pasukan tentara yang dahsyat ini, berangkat hendak menerobos padang sahara menuju ke arah Syam; yang demi di jalan Allah, tidak mereka pedulikan lagi udara panas, rasa dahaga dan lapar, dengan meninggalkan mereka yang mau duduk-duduk dan tinggal di belakang, orang-orang yang lebih suka tinggal di tempat yang teduh dan bersenang-senang daripada suatu ujian iman dan perkenanan Tuhan. Pasukan tentara yang telah didahului oleh sepuluh ribu pasukan berkuda serta kaum wanita yang begitu terpesona menyaksikan segala kebesaran dan kekuatan itu, suasananya telah dapat menggerakkan hati beberapa orang yang tadinya surut dalam menerima ajakan Rasul dan tidak mau ikut. Demikian juga Abu Khaithama, setelah melihat suasana itu ia kembali pulang. Kedua orang isterinya dijumpainya masing-masing sedang menyirami tempat ia berteduh dan sedang mendinginkan air minum dan menyediakan makanan buat dia.
Setelah dilihatnya apa yang dilakukan wanita itu ia berkata:

“Rasulullah dalam terik matahari, angin dan udara panas, sedang Abu Khaithama di tempat yang teduh, sejuk dengan makanan dan wanita cantik diam di rumah. Sediakan perbekalanku, aku akan menyusul.”

Setelah bekal yang diperlukan disediakan, ia pun pergi menyusul pasukan tentara. Mungkin masih ada juga sekelompok orang yang tinggal di belakang telah pula mengikuti jejak Abu Khaithama, setelah mereka menyadari bahwa tindakan mereka yang hendak mengelak dan takut-takut itu suatu tindakan tercela dan hina.
Dalam perjalanannya tentara itu sudah sampai di Hijr. Di tempat ini terdapat pula puing-puing bekas rumah-rumah kaum Thamud yang terukir pada batu besar. Di tempat itu mereka oleh Rasulullah diperintahkan berhenti. Orang-orang pun mulai mengambil air dari sumur. Setelah selesai, kata Rasul kepada mereka:

“Jangan ada yang minum air sumur ini, juga jangan dipakai berwudu untuk sembahyang. Bila sudah ada adonan yang kamu buat dengan air itu berikanlah kepada ternak dan samasekali jangan kamu makan. Juga jangan ada yang keluar malam ini kalau tidak disertai seorang teman.”

Soalnya tempat itu tiada pernah dilalui orang dan kadang timbul angin badai berupa pasir yang dapat menimbun manusia atau binatang. Malam itu ada dua orang yang keluar diluar perintah Rasul. Salah seorang daripada mereka dibawa angin dan yang seorang lagi tertimbun pasir. Keesokan harinya orang melihat pasir itu telah menimbuni sumur sehingga air tidak ada lagi. Orang jadi takut akan kehausan lebih ngeri lagi karena perjalanan masih panjang. Akan tetapi, sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang awan membawa hujan dan mereka pun kini mendapat air berlimpah-limpah. Perasaan takut hilang dan mereka semua bergembira. Ada mereka yang berkata satu sama lain, bahwa itu suatu mujizat. Sedang yang lain mengatakan itu hanya awan lalu.

Setelah itu pasukan tentara itu meneruskan perjalanan ke Tabuk. Sebenarnya tentang pasukan ini dan kekuatannya beritanya sudah sampai kepada pihak Rumawi. Oleh karena itu ia lebih suka menarik mundur pasukannya yang tadinya sudah ditujukan ke perbatasan dengan maksud hendak melindungi daerah Syam dengan benteng-bentengnya itu. Setelah pihak Muslimin sampai di Tabuk dan Muhammad mengetahui pihak Rumawi menarik diri dan berada dalam ketakutan, dirasa sudah tidak pada tempatnya akan mengejar mereka terus sampai ke dalam negeri mereka.

Oleh karena itu ia tetap tinggal di perbatasan, akan menghadapi siapa saja yang akan menyerang atau melawannya. Ia berusaha menjaga perbatasan-perbatasan itu supaya jangan ada pihak yang melandanya.

Ketika itulah Yohanna bin Ru’ba - seorang amir (penguasa) Aila3 yang tinggal di perbatasan oleh Nabi telah dikirimi surat supaya ia tunduk atau akan diserbu. Yohanna datang sendiri dengan memakai salib dari emas di dadanya. Ia datang dengan membawa hadiah dan menyatakan setia. Ia mengadakan perdamaian dengan Muhammad dan bersedia membayar jizya seperti yang juga dilakukan oleh pihak Jarba’4.. dan Adhruh5. dengan membayar jizya. Di samping itu Rasulullah telah pula membuat surat-surat perjanjian perdamaian dengan mereka. Berikut ini salah satu bunyi teks itu, yakni yang dibuat dengan Yohanna:

“Atas nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Surat ini ialah perjanjian keamanan atas nama Tuhan dari Muhammad, Nabi Utusan Allah kepada Yohanna ibn Ru’ba serta penduduk Aila, atas kapal-kapal dan kendaraan-kendaraan dalam perjalanan mereka di darat dan di laut, mereka berada dalam jaminan Allah dan Muhammad, termasuk mereka penduduk Syam, penduduk Yaman dan penduduk pantai laut. Barangsiapa melakukan suatu pelanggaran maka selain dirinya, hartanya itu tidak akan dapat melindunginya dan Muhammad dibenarkan mengambil itu dari mereka. Mereka tidak boleh dirintangi dari air yang dikehendaki atau jalan yang akan ditempuhnya, di darat atau di laut.”

Sebagai tanda persetujuan atas perjanjian ini Muhammad telah pula memberikan hadiah kepada Yohanna berupa mantel tenunan Yaman disertai perhatian penuh kepadanya, setelah diperoleh persetujuan bahwa Aila akan membayar jizya sebesar 3000 dinar tiap tahun.

Muhammad sebenarnya sudah tidak perlu lagi berperang setelah pihak Rumawi menarik diri, dan telah dibuat perjanjian dengan daerah-daerah yang terletak di perbatasan dan karena sudah merasa aman setelah pula balatentara Bizantium kembali dari wilayah itu, kalau tidak karena lalu timbul suatu kekuatiran baru. Pihak Ukaidir b. ‘Abd’l-Malik al-Kindi orang Nasrani, Penguasa Duma6. itu akan memberontak dengan mendapat bantuan balatentara Rumawi bilamana mereka datang dari jurusan itu. Itu sebabnya Nabi lalu menugaskan Khalid bin’l-Walid dengan sebuah pasukan berkuda terdiri dari 500 orang. Dia sendiri berbalik dengan pasukannya kembali ke Medinah.

Dengan cepat sekali Khalid terjun menyusur ke Duma dengan tidak setahu penguasa itu, yang dalam malam terang bulan dengan disertai saudaranya yang bernama Hassan, sedang sama-sama memburu lembu liar. Khalid tidak mendapat perlawanan yang berarti. Hassan terbunuh dan Ukaidir ditawan. Ia diancam akan dibunuh kalau pintu gerbang Duma tidak dibuka. Oleh karena itu pintu-pintu kota kemudian dibuka sebagai tebusan atas diri sang amir. Dari tempat ini Khalid kemudian dapat mengangkut sebanyak duaribu ekor unta, delapan ratus ekor kambing, empat ratus wasq (muatan) gandum dan empat ratus buah pakaian besi. Semua itu diangkutnya bersama-sama dengan Ukaidir sampai dapat menyusul Nabi di Ibukota. Muhammad menawarkan Islam kepada Ukaidir yang kemudian diterimanya dan ia pun menjadi pula sekutunya.

Muhammad kembali dengan memimpin ribuan anggota Pasukan ‘Usra ini dari perbatasan Syam ke Medinah, bukanlah soal yang ringan. Mereka itu kebanyakan tidak mengerti makna persetujuan yang telah diadakan dengan amir Aila dan negeri-negeri tetangganya, Juga mereka tidak menganggap begitu penting persetujuan-persetujuan yang telah dibuat oleh Muhammad guna menjamin keamanan di perbatasan seluruh jazirah itu serta dibangunnya benteng-benteng di tempat-tempat itu sebagai perbatasan dengan pihak Rumawi. Sebaliknya yang dapat mereka lihat hanyalah, bahwa mereka menempuh jalan yang sulit dan panjang ini, dengan mengalami gangguan-gangguan, kemudian kembali tanpa membawa rampasan, tanpa membawa tawanan perang, bahkan berperang juga tidak. Segala yang dapat mereka lakukan hanyalah tinggal di Tabuk selama hampir duapuluh hari.

Jadi, hanya untuk inikah mereka mengarungi padang sahara di bawah tekanan panas musim yang dahsyat, sementara buah-buahan di Medinah sudah mulai masak, dan orang sudah pula dapat menikmatinya? Ada segolongan orang yang lalu mengejek apa yang telah dilakukan Muhammad itu. Orang yang memang sudah teguh imannya, menyampaikan kabar ini kepadanya. Ia mengambil tindakan terhadap orang-orang yang mengejeknya itu, kadang dengan kekerasan, kadang dengan cara lemah-lembut, sementara pasukan tentara meneruskan perjalanan pulang ke Medinah sambil selalu Muhammad menjaga dan mengatur barisan itu.

Tatkala ia sudah sampai di kota, Khalid bin’l-Walid pun menyusul pula sampai. Ia datang bersama dengan Ukaidir yang dibawanya dari Duma, berikut unta, kambing, gandum dan baju-baju besi. Ketika itu Ukaidir mengenakan pakaian lengkap dari sutera berat dengan berumbaikan emas. Penduduk Medinah sangat terpesona melihatnya.

Mereka yang tinggal di belakang tidak mengikutinya merasa gelisah sekali. Mereka yang tadinya mengejek kini mulai sadar sendiri. Mereka datang sekarang sambil membawa dalih minta maaf. Tetapi kebanyakan mereka minta maaf itu disertai kebohongan. Sikap mereka ini oleh Muhammad ditolak, diserahkan kepada kebijaksanaan Tuhan. Tetapi ada tiga orang yang sudah beriman kepada Allah dan kepada Rasul, mereka ini mengakui akan tindakan mereka tinggal di belakang dan mengakui pula dosa mereka. Mereka itu ialah Ka’b b. Malik, Murara bin’r-Rabi’ dan Hilal b. Umayya. Karena larangan yang pernah dikeluarkan oleh Muhammad, mereka bertiga itu selama limapuluh hari tidak diajak bicara oleh kaum Muslimin, juga tidak seorang Muslim pun mengadakan hubungan dagang dengan mereka. Tetapi Tuhan kemudian mengampuni mereka bertiga, dan firman Tuhan ini turun:

“Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang telah mengikuti Nabi pada masa kesulitan (‘usra) setelah ada sebahagian mereka yang hampir menyimpang hatinya. Tetapi kemudian Tuhan menerima taubat mereka. Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada mereka. Juga terhadap tiga orang yang tinggal di belakang, sehingga bumi yang seluas ini terasa sempit oleh mereka, napas mereka pun terasa sesak, dan mereka sudah mengerti, bahwa tak ada tempat berlindung dari siksa Tuhan selain kepada Tuhan juga. Kemudian Allah menerima taubat mereka supaya mereka selalu bertaubat. Dan Allah Maha Penerima segala taubat dan Maha Pengasih.” (Qur’an, 9:117-118)

Sejak itu Muhammad bersikap tegas terhadap orang-orang Munafik, suatu sikap yang tidak biasa mereka alami sebelumnya. Soalnya ialah karena jumlah kaum Muslimin sudah bertambah banyak. Tingkah-laku kaum Munafik terhadap mereka akan berbahaya sekali dan sangat dikuatirkan. Oleh karena itu perlu diatasi. Muhammad memang sudah yakin sekali - setelah janji Tuhan akan memberikan kemenangan kepada agama dan perintah Tuhan - bahwa jumlah mereka akan bertambah, akan berlipat-ganda banyaknya dari yang sekarang. Maka ketika itulah orang-orang Munafik akan merupakan bahaya besar. Keadaan sebelum itu, tatkala Islam masih terbatas dalam kota Medinah dan sekitarnya, segala yang terjadi terhadap kaum Muslimin dia sendiri yang mengawasinya. Tetapi, sesudah agama meluas tersebar ke seluruh jazirah Arab, bahkan sudah hampir meluas keluar, maka setiap kelalaian terhadap orang-orang Munafik itu, berarti akan merupakan suatu bencana yang sangat dikuatirkan akibatnya, akan merupakan bahaya yang cepat sekali akan menjalar jika tidak lekas-lekas pula kuman-kuman itu diberantas.

Ada beberapa orang membuat sebuah mesjid7. di Dhu Awan sejauh satu jam perjalanan dari Medinah. Ke dalam mesjid inilah kelompok orang-orang Munafik itu selalu datang. Mereka berusaha hendak mengubah ajaran Tuhan dari yang sebenarnya. Dengan itu mereka hendak memecah-belah kaum Muslimin dengan menimbulkan bencana dan kekufuran. Kelompok ini meminta kepada Nabi supaya membuka mesjid dan sekalian sembahyang di tempat itu. Permintaan mereka diajukan sebelum peristiwa Tabuk. Oleh Nabi mereka diminta menunggu sampai ia kembali. Tetapi setelah kembali dan mengetahui persoalan mesjid itu serta untuk apa pula tujuan sebenarnya dibangun, oleh Nabi diperintahkan supaya mesjid itu dibakar. Dengan demikian hal itu telah menjadi contoh, yang membuat orang-orang Munafik itu jadi ketakutan. Mereka surut dan menyisihkan diri. Yang akan melindungi mereka pun sudah tak ada lagi selain Abdullah b. Ubayy, ketua dan pemimpin mereka itu.

Catatan kaki:

3 Aila ialah Elath atau ‘Aqaba sekarang, di dekat Teluk Aqaba (A).
4 Jarba’ sebuah desa di dekat Amman di bilangan Balqa, wilayah Syam.
5 ‘Adhruh, nama tempat di ujung Syam antara Balqa, dengan Amman, berdekatan dengan Hijaz dan tidak jauh dari Jarba’.
6 Duma, ialah yang dikenal dengan nama Dumat’l-Jandal, terletak sekitar 220 km dari Damsyik ke jurusan Medinah.
7 Mesjid ini dikenal dengan nama ‘Masjid Dziral’ atau ‘Masjid Bencana,’ dzirar harfiah berarti ‘kerusuhan,’ ‘kerugian,’, ‘bahaya’ (A).



15.6. TABUK DAN KEMATIAN IBRAHIM

BAGIAN KEDUAPULUHTUJUH
TABUK DAN KEMATIAN IBRAHIM 
[Tulisan 3 Dari 3]



Hanya saja sesudah Tabuk, Abdullah b. Ubayy ini tidak lama lagi hidupnya. Setelah dua bulan menderita sakit ia mati. Meskipun rasa dengki terhadap Muslimin sudah menggerogoti hatinya sejak Nabi tinggal di Medinah, namun Muhammad lebih suka kaum Muslimin jangan menggangu Ibn Ubayy. Ketika orang ini meninggal dan Nabi diminta menyembahyangkannya, dengan segera pula Nabi pun menyembahyangkan dan mendoakan ketika dikuburkan sampai upacara itu selesai. Dengan matinya Ibn Ubayy sendi kaum Munafik itu juga runtuh. Mereka yang masih ada, sekarang dengan sungguh-sungguh mereka bertaubat kepada Tuhan.

Dengan ekspedisi Tabuk ini maka selesailah amanat Tuhan diajarkan ke seluruh jazirah Arab, dan Muhammad sudah merasa aman dari setiap permusuhan yang akan ditujukan kepada agama. Utusan-utusan dari pelbagai daerah sekarang datang menghadap kepadanya dengan menyatakan sekali kesetiaannya serta mengumumkan pula keislamannya. Ekspedisi sekali ini buat Nabi a.s. merupakan ekspedisi terakhir. Sesudah itu Muhammad menetap di Medinah, menikmati karunia pemberian Tuhan kepadanya. Ibrahim anaknya merupakan jantung hati cindur mata selama enambelas atau delapanbelas bulan. Apabila ia selesai menerima para utusan, mengurus masalah-masalah kaum Muslimin, menunaikan kewajiban kepada Tuhan serta hak kewajiban seluruh keluarga, hatinya merasa sejuk dengan melihat bayi yang selalu berkembang dan baik sekali pertumbuhannya itu. Makin lama makin jelas kesamaannya, yang membuat sang ayah makin cinta dan kasih kepadanya. Sepanjang bulan itu yang menjadi inang pengasuhnya ialah Umm Saif, yang menyusui dan memberikan susu kambing pengasih Nabi dulu itu.

Cinta-kasih Muhammad kepada Ibrahim sebenarnya bukan karena suatu maksud pribadi yang ada hubungannya dengan Risalah yang dibawanya, atau dengan yang akan menjadi penggantinya. Muhammad a.s. dengan imannya kepada Tuhan dan kepada Risalah Tuhan tidak akan memikirkan anak atau siapa yang akan mewarisinya. Bahkan dikatakannya:

“Kami para Nabi, tidak dapat diwarisi. Apa yang kami tinggalkan untuk sedekah.”

Akan tetapi, rasa kasih insani dalam artinya yang luhur, rasa kasih insani yang begitu dalam tertanam dalam hati Muhammad - yang kiranya tidak akan dicapai oleh siapa pun, rasa insani yang akan membuat manusia Arab memandang anak laki-laki yang akan mewarisinya sebagai sebuah lukisan abadi - rasa kasih inilah yang telah membuat Muhammad mencurahkan semua cintanya kepada Ibrahim, kasih-sayang yang tiada taranya. Dan rasa kasih ini lebih parah merasuk ke dalam hati, karena sebelum itu ia telah kehilangan kedua puteranya - Qasim dan Tahir, - dan keduanya masih bayi dalam pangkuan Khadijah ibunya. Setelah Khadijah wafat ia kehilangan puteri-puterinya pula, satu demi satu, setelah mereka bersuami dan menjadi ibu. Sekarang tak ada lagi yang masih hidup, selain Fatimah. Putera-putera dan puteri-puteri itu, yang satu demi satu berguguran di tangannya dan dengan tangannya sendiri pula ia menguburkan mereka ke dalam pusara, yang telah meninggalkan luka yang begitu pedih dalam hatinya, kini terasa terobat juga dengan lahirnya Ibrahim, tempat buah hati meletakkan segala harapan. Dan sudah sepantasnya pula bila dengan harapan itu ia merasa gembira, merasa bahagia.

Tetapi harapan ini tidak berlangsung lama; hanya selama beberapa bulan saja seperti yang sudah kita sebutkan. Sesudah itu Ibrahim jatuh sakit, sakit yang sangat menguatirkan. Ia dipindahkan ke sebuah tempat dengan kebun kurma di samping Masyraba Umm Ibrahim. Maria dan Sirin adiknya selalu menjaga dan merawatnya. Bayi ini tidak lama sakitnya Tatkala ajal sudah dekat dan Nabi diberi tahu, karena rasa sedih yang sangat mendalam, ia berjalan dengan memegang tangan Abdur-Rahman b. ‘Auf sambil bertumpu kepadanya. Bila ia sudah sampai ke tempat itu di samping ‘Alia - tempat Masyraba yang sekarang - dijumpainya Ibrahim dalam pangkuan ibunya, sedang menarik napas terakhir. Diambilnya anak itu, lalu diletakkannya di pangkuannya dengan hati yang remuk-redam rasanya. Tangannya menggigil. Kalbu yang duka dan pilu rasa mencekam seluruh sanubari. Lukisan hati yang sedih mulai membayang dalam raut wajahnya. Sambil meletakkan anak itu di pangkuan ia berkata: “Ibrahim, kami tak dapat menolongmu dari kehendak Tuhan.”

Dalam keadaan hening yang menekan itu kemudian airmatanya berderai bercucuran, sementara anak itu sedang menarik napas terakhir. Sang ibu dan Sirin menangis menjerit-jerit; oleh Rasulullah dibiarkan mereka begitu.

Setelah tubuh Ibrahim tiada bergerak lagi, sudah tiada bernyawa, dan dengan kematiannya itu padam pula semua harapan yang selama ini membuka hati Nabi, makin deras pula airmata Muhammad mengucur, sambil ia berkata:

“Oh Ibrahim, kalau bukan karena soal kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini.” Dan setelah diam sejenak, katanya lagi: “Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadapmu.”

Muslimin yang melihat Muhammad begitu duka, beberapa orang terkemuka hendak mengurangi hal itu dengan mengingatkannya akan larangannya berbuat demikian. Tapi ia menjawab: “Aku tidak melarang orang berduka cita, tapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku sekarang, ialah pengaruh cinta dan kasih didalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayangnya, orang lain pun tiada akan menunjukkan kasih sayang kepadanya.” Atau seperti dikatakan juga: Kemudian ia berusaha menahan duka hatinya. Ia memandang Maria dan Sirin dengan pandangan penuh kasih. Kepada mereka dimintanya supaya lebih tenang sambil katanya: “Ia akan mendapat inang pengasuh di surga.”

Kemudian setelah ia dimandikan oleh Umm Burda, - sumber lain menyebutkan oleh Fadzl bin’l-‘Abbas - dibawa dari rumah itu di atas sebuah ranjang kecil. Nabi dan Abbas pamannya, begitu juga sejumlah kaum Muslimin ikut mengantarkan sampai ke Baqi’. Di tempat itu ia dimakamkan setelah disembahyangkan oleh Nabi. Selesai pemakaman Muhammad minta supaya makam itu ditutup kemudian diratakannya dengan tangannya sendiri. Ia memercikkan air dan memberi tanda di atas kubur itu. Lalu katanya:

“Sebenarnya ini tidak membawa kerugian, juga tidak mendatangkan keuntungan. Tetapi hanya akan menyenangkan hati orang yang masih hidup. Apabila orang mengerjakan sesuatu, Tuhan lebih suka bila dikerjakan secara sempurna.”

Bersamaan dengan kematian Ibrahim itu kebetulan terjadi pula matahari gerhana. Kaum Muslimin menganggap peristiwa itu suatu mujizat. Kata mereka matahari gerhana karena Ibrahim meninggal. Hal ini terdengar oleh Nabi.

Karena cintanya yang begitu besar kepada Ibrahim, dan rasa duka yang begitu dalam karena kematiannya, adakah ia lalu merasa terhibur mendengar kata-kata itu, atau setidak-tidaknya akan didiamkan saja, menutup mata melihat orang sudah begitu terpesona karena telah menganggap itu suatu mujizat? Tidak. Dalam keadaan serupa itu, kalau pun ini layak dilakukan oleh mereka yang suka mengambil kesempatan karena kebodohan orang, atau layak dilakukan oleh mereka yang sudah tak sadar karena terlampau sedih, buat orang yang berpikir sehat tentu hal ini tidak layak, apalagi buat Nabi Besar! Muhammad melihat mereka yang mengatakan bahwa matahari telah jadi gerhana karena kematian Ibrahim, dalam khotbahnya kepada mereka ia berkata:

“Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dalam zikir kepada Tuhan dengan berdoa.”

Sungguh suatu kebesaran yang tiada taranya. Rasul tidak melupakan risalahnya itu dalam suatu situasi yang begitu gawat, situasi jiwa yang sedang dalam keharuan dan kesedihan yang amat dalam! Kalangan Orientalis dalam menanggapi peristiwa yang terjadi terhadap diri Muhammad ini, tidak bisa lain mereka bersikap hormat dan kagum sekali! Mereka tidak dapat menyembunyikan rasa kekaguman dan rasa hormatnya itu kepadanya. Mereka menyatakan pengakuan mereka tentang kejujuran orang itu, yang dalam situasi yang sangat gawat ia tetap mempertahankan hak dan kejujurannya yang sungguh-sungguh !

Gerangan bagaimana pula perasaan isteri-isteri Nabi melihat kesedihan dan dukacita yang menimpanya begitu mendalam karena kematian Ibrahim itu? Dia sendiri sudah merasa terhibur dengan karunia Tuhan itu dan dapat pula meneruskan tugas menunaikan risalah serta dengan bertambahnya Islam tersebar pada perutusan yang terus-menerus datang kepadanya dari segenap penjuru, sehingga tahun kesepuluh Hijrah ini diberi nama ‘Am’lWufud - Tahun Perutusan.’ Pada tahun itulah Abu Bakr memimpin orang menunaikan ibadat haji.